Erni4386′s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Monday, 21 April 2008
Strategi Ekonomi Nabi Yusuf?
 
Muhammad Syafii Antonio
Jikalau kita mencermati keadaan sosial politik umat Islam global dan perekonomian nasional akhir 2002 dan awal 2003, tampaknya kita berada dalam titik nadir yang sangat berat dan menyulitkan.
Dalam sejarah umat Islam kontemporer belum pernah kita menyaksikan Islam dijadikan musuh bersama dunia seperti yang terjadi setelah peristiwa WTC 11 September 2001 dan diperparah lagi dengan pengeboman Bali. Kalau dahulu NATO berhadapan dengan Fakta Warsawa dan dunia Barat berhadapat dengan blok Uni Soviet, kini Barat dan Timur, NATO dan Fakta Warsawa bersatu memerangi Islam.

Secara perlahan tapi pasti, pemerintahan George W Bush memanfaatkan situasi itu untuk menggalang dukungan dari Uni Eropa, Rusia, Jepang, dan berbagai kekuatan dunia lainnya, termasuk negara negara Arab Muslim untuk memerangi terorisme.

Sampai di sini kita setuju, tetapi setelah teror sangat diidentikan dengan radikal Islam dan pengungkapan syiar Islam dianggap sebagai fenomena fundamentalisme, akhirnya tak terelakkan setiap tindakan terorisme menjadi identik dengan Islam. Stigma ini sangat kuat sekali di kalangan politisi Barat seperti yang diungkapkan oleh salah seorang politisi New South Wales, Australia, yang mengusulkan pelarangan Muslimah untuk tampil dengan busana Muslim di area publik karena khawatir membawa “bom” di balik jilbabnya.

Dalam perekonomian nasional kita juga baru menyaksikan suatu “bencana” yang menimpa rakyat banyak berupa kenaikan serentak 3 harga barang strategis nasional: bahan bakar minyak, listrik, dan telepon. Tahun 2002 juga ditandai dengan menurunnya kepercayaan investor asing terhadap kepastian hukum dan iklim investasi nasional yang tercermin dengan hengkangnya Sony dan beberapa relokasi pabrik dari Indonesia. Hal ini dipersulit dengan meningkatnya daya tarik beberapa pemain lain seperti Cina, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Beberapa ekonom juga seolah sepakat tahun 2003 akan lebih berat dari 2002. Sektor ekspor juga dikhawatirkan akan berjalan di tempat jikalau tidak mundur. Hal ini mengingat semakin kecilnya daya saing barang Indonesia di pasaran gobal akibat dari meningkatnya 3 komponen utama produksi: listrik, transportasi, dan telekomunkasi. Dalam Alquran, kisah yang paling mirip menjelaskan carut-marutnya keadaan ekonomi suatu negeri adalah seperti yang digambarkan dalam kisah nabi Yusuf.

Nabi Yusuf dalam tabir mimpinya mengisahkan bahwa akan ada 7 tahun (kurun waktu) di mana negeri dilanda kekeringan dan kekurangan segenap jenis barang dan jasa. Untuk itu nabi Yusuf menyarankan agar dilakukannya penghematan dan efisiensi sebagai strategi peneyelamatan ekonomi hingga datangnya satu masa subuh dan panen.
Mencermati siklus ekonomi seperti yang tertuang dalam surat Yusuf ayat 47-49 minimal ada beberapa hikmah yang perlu kita catat sebagai alternatif upaya perbaikan ekonomi nasional. Pertama, informasi masa sulit masih berlangsung untuk kurun waktu yang cukup lama.

Menurut para ahli tafsir redaksi 7 tahun tidak harus berarti 7 kali 365 hari. Karena dalam bahasa arab angka 7 sering dipakai untuk menunjukan mubalagah fi al katsah, hiperbol jumlah yang banyak. Analogi ini juga sering dipakai dalam kosa kata Indonesia seperti pusing 7 keliling, 7 lapis langit, 7 lapis legit, dan 7 turunan.

Tahun 2003 merupakan 7th anniversary krisis Asia, atau genap 7 tahun krisis ekonomi yang melanda Asia. Sekalipun ia sudah mencapai angka 7 tapi semua indikasi ekonomi belum menunjukkan bangsa Indonesia akan lebih makmur di tahun 2003 dibandingkan tahun sebelumnya.

Utang luar negeri dan domestik yang belum juga turun secara signifikan menjadikan daya layan (kafa at al- ada) pemerintah menjadi semakin kecil. Dengan komposisi utang luar negeri Pemerintah, 70 miliar dolar AS (Rp 630 triliun), utang dalam negeri Pemerintah Rp 650 triliun, (Rp 200 triliun BLBI dan Rp 400 triliun lebih obligasi rekapitalisasi perbankan) dan utang luar negeri swasta, yang hampir mencapai 60 miliar AS (Rp 540 triliun), tampaknya sebagian besar pendapatan pemerintah akan tersedot untuk membayar utang dan sedikit tersisa untuk peningkatan layanan publik.

Selain meningkatnya 3 komoditi utama penunjang kehidupan ekonomi (listrik, BBM, dan telepon) kedaan juga diperparah dengan semakin rendahnya mutu keamanan nasional, dan maraknya kriminalitas. Tahun 2003 juga merupakan tahun terkahir menjelang pemilu 2004 hampir bisa dipastikan suhu politik juga akan memanas, tarik menarik kepentingan ekonomi penunjang biaya kampanye juga akan semakin memperkeruh jalannya roda bisnis tanah air.

Kedua, kisah nabi Yusuf juga memberikan nasihat agar dilakukan penghematan dan efisiensi di semua sektor dan lini perekonomian. Musuh terbesar inefficiency bangsa ini adalah kebocoran, mark-up, bribery, pembangunan proyek-proyek yang memiliki nilai tambah rendah dengan komponen impor yang tinggi dan KKN. Dalam konteks ini pemerintah mungkin akan berdalih bahwa dihilangkannya subsidi atas 3 komoditas utama secara serentak adalah bagian dari penghematan dan efisiensi defisit APBN.

Logika ini akan benar jika law enforcement pemerintah terhadap para debitur nakal BPPN dilaksanakan dengan tegas, tanpa pandang bulu dan dengan time frame yang ketat. Jikalau tidak maka kita akan memaksa si kecil dan si miskin untuk berhemat dan mengencangkan ikat pinggang sementara konglomerat ”hitam” masih leluasa berkeliaran dengan gaya hidup yang tidak memcerminkan seorang yang sedang dikejar-kejar tagihan.

Khusus untuk BBM misalnya kalau kenaikan harga BBM ini mengikuti pola kebijakan harga seperti pada Keppres No 9/2002 dan Keppres No 90/2002, di mana harga BBM di dalam negeri ditentukan berdasarkan fluktuasi harga BBM di Kilang Singapura seperti yang tercatat di dalam publikasi Mid Oil Platts Singapore (MOPS), maka sebenarnya kenaikan harga BBM 2003 ini tidak sepenuhnya mengacu kepada RAPBN 2003 dan belum saatnya dilakukan apalagi dengan serentak dengan dua komoditas utama lainnya.

Ketiga, untuk melaksanakan recovery ekonomi ini dibutuhkan leadership yang tangguh seperti Yusuf. Ada dua karakter utama yang dicontohkan Yusuf dalam memimpin bangsanya keluar dari krisis yang sangat lama dan berat yaitu hafidz dan ‘alim. Kita mulai dari ‘alim, baru hafidz.

‘Alim artinya knowledgeable, yang mengetahui demografi kependudukan, potensi laut dan bumi negerinya, hafal angka tenaga kerja plus penganggurnya, apa yang dirasakan rakyatnya, bagaimana pahitnya perjuangan untuk memcari sesuap nasi bagi tukang becak serta betapa beratnya penderitaan tuna wisma yang tidur di kolong jembatan dan menggantungkan hidupnya sebagai pemulung sampah.

‘Alim adalah seorang pemimpin atau tim ekonomi yang memutuskan kebijakan fiskal dan moneter berdasarkan data objektif dan bukan kepentingan politis sesaat. ‘Alim adalah seorang pemimpin yang visioner yang mampu mengajak rakyatnya melihat setitik cahaya di ujung terowongan yang gelap.

Hafidz artinya mampu menjaga dan mengamankan dengan penuh amanah. Yusuf berkeyakinan ketika ia diserahi tugas sebagai penganggung jawab Federal Reserve negri Mesir, bahwa harta yang dikelolanya bukanlah harta pribadinya atau harta partainya tetapi itu semua adalah harta negara dan milik rakyat. Tugasnya tidak lebih dan tidak kurang kecuali untuk menjaga, mengamankan dan mengembangkan agar cukup untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Ia sadar bahwa suatu hari ia akan diminta pertanggung jawaban di padang mahsyar.

Jikalau kita mencermati penjualan Indosat, dan beberapa asset bangsa lainnya, dengan harga yang penuh kontroversi tampaknya prinsip hafidz ini masih jauh dari diri kita. Apalagi jika kita saksikan laporan dari rapat dengar pendapat BPKP dengan Komisi IX DPR, beberapa waktu yang lalu, terungkap adanya 2.508 kasus penyimpangan keuangan negara dengan nilai Rp 2,2 triliun.

Dari temuan sementara ini, yang telah ditindaklanjuti sebesar Rp 619,7 miliar dari 870 kasus. Sedangkan yang belum ditindaklanjuti sebanyak 1.638 kasus, dengan nilai Rp 1,6 triliun. Dari pemeriksaan terhadap departemen dan badan pemerintah lainnya juga terungkap bahwa Badan Urusan Logistik (Bulog) menempati urutan pertama dengan nilai temuan terbesar, yaitu Rp 4,4 triliun dari 200 kasus. Pertamina berada di urutan kedua, dengan 706 kasus senilai Rp 3 triliun.

Jika ini yang terjadi kita bukanlah al- hafidz yang menjaga tetapi justru al-mudhi’ie sang destroyer yang menghabiskan aset bangsa dan tidak menyisakan sedikit pun untuk generasi mendatang kecuali utang yang menggunung.

Semoga di tahun 2003 ini kita bisa mencermati strategi ekonomi nabi Yusuf dan keteladanan yang dimilikinya sehingga kita bisa keluar dari keterpurukan ekonomi dan membangun bangsa yang lebih sejehatera. Semoga.

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.